Aku uji hamba-Ku, apa yang dia cintai….
Firman Tuhan tersebut sangat benar. Semua yang Anda cintai pasti akan melenakan hidup Anda. Jika sewaktu-waktu benda atau orang yang Anda cintai hilang maka kehidupan menjadi tidak normal bahkan bisa melupakan Tuhan. Hidup selalu dinamis alias tidak pernah statis. Keadaan kaya maupun miskin adalah dalam ujian. Waspadalah dalam hidup. Jangan terlena oleh cinta. Anda cinta harta, keluarga, anak, jabatan atau apapun, ujian ada didalam rasa cinta tersebut.
Pada hari Jumat, 15 Juni 2007, tepatnya pukul 02.16 WIB dini hari, saya diuji oleh Tuhan karena sangat mencintai sesuatu selain Dia. Anak kedua saya yang sangat saya cintai diambil-Nya. Saking luar biasanya rasa cinta saya kepada anak saya, menyebabkan saya lupa bahwa anak saya telah diambil oleh pemilik-Nya. Anak itu rasanya seperti hanya milik saya sehingga saya merasa susahyang luar biasa ketika kehilangan anak. Ujian tersebut berlangsung selama 3 tahun.Saya merasakannya karena ikhlas dalam ucapan tidak ikhlas dalam perasaan. Itulah kemunafikan yang menambah rusaknya hati. Mulut memuji Tuhan, hati melawan Tuhan. Mulut berkata ikhlas atas kehendak-Mu. Namun hati terbayang “Jikalau dia hidup, apabila dia tidak mati, andaikan dia sehat….” Hati yang selalu melawan kehendak Tuhan adalah hati yang dikuasai setan. Tuhan berfirman, “Angan-angan panjang hanyalah milik setan”.
Banyak firman Tuhan maupun sabda Rasul yang saya hafal. Namun semua itu tidak bisa mengembala hati yang liar karena berada dalam penguasaan setan. Hati yang tak tergembala adalah hati liar yangakan merusak kehidupan. Kita tidak bisa mengendalikan hati dengan hafalan kata-kata penuh hikmah yang berasal dari firman Tuhan maupun sabda Rasul. Karena dalam tubuh kita pusatnya kemunafikan, otak sangat jago berangan-angan dan sering membantah firman-Nya. Walaupun mulut mengatakan setuju, otak dan hati sering bertolak belakang. Saya bisa menenangkan orang yang lagi resah dengan firman-firman-Nya. Banyak orang mendatangi saya untuk meminta petuah dan solusi dalam kehidupannya yang resah. Dengan mudah saya berucap,“Aku uji hamba Ku, apa yang dia cintai” sambil memberikan penjelasan sesuai tafsir dan contoh-contoh yang ada dalam kitab suci. Orang-orang yang datang dan mendengarkan manggut-manggut setuju. Mereka menjadi tabah dan bertambah imannya. Namun begitu ujian dari-Nya jatuh pada saya, semua firman-Nya hanya sampai dimulut saja. Hati saya menolak dan otak saya membantah.Itulah kemunafikan dalam diri yang berakibat keresahan, kesusahan, dan penolakan yang mengakibatkan sakit pada jiwa dan raga.
Saat itu banyak sahabat saya yang menyandang predikat kyai memberikan kata-kata petuah kepada saya. Dengan penolakan penuh kesombongan saya katakan, “Yang kau ucapkan saya sudah tahu semua, lebih baik cerita yang lain saja. Kalau kau ucapkan petuah seperti itu sama saja dengan jeruk makan jeruk.” Begitulah ucapan saya waktu itu, menirukan kata-kata iklan.
Mereka tertawa semua dan mengatakan saya lagiJadab (gila karena pendekatan pada Tuhan).
ingat pesanmu ikhlas adalah memberi tanpa merasa kehilangan. Sekarang saya ikhlas, sudah tidak merasa kehilangan lagi. Anak saya sewaktu hidup adalah milik saya. Ketika sudah wafat adalah milik-Nya. Anak saya diambil itu sudah jalan dari-Nya.
Sejak itu saya menjadi normal dalam berpikir. Keimanan datangnya dari pola pikir yang logis. Hasil pikiran yang logis akan mendapat petunjuk dari Tuhan. Selama tidak logis sulit untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Agama Tuhan adalah agama yang logis maka kita akan mendapat petunjuk setelah pikiran kita logis dan yakin akan janji-Nya.
Selama tiga tahun pikiran saya tidak logis maka Tuhan tidak memberi petunjuk. Karena kasih sayang-Nya dan kepasrahan saya kepada-Nya, barulah Tuhan memberi petunjuk melalui sahabat saya yang ahli di bidang psikologi. Tuhan Maha Mengetahui, petunjuk yang diberikan kepada saya tidak melalui ahli agama. Karena seperti saya sampaikan terdahulu jeruk makan jeruk…
Petunjuk-Nya disampaikan melalui sahabat saya yang ahli di bidang psikologi. Dahulu waktu anak sahabat saya meninggal, saya menyampaikan petunjuk Tuhan kepadanya dengan kata “Ikhlaskan, itu sudah kehendak-Nya. Memberi tanpa merasa kehilangan itulah ikhlas. Berikan kepada yang punya dan jangan merasa kehilangan.”
Sekarang saya mengalami kejadian seperti sahabat saya. Dia mengembalikan kata-kata saya “Ikhlas memberi tanpa merasa kehilangan”. Dia menyampaikan ke saya dengan sangat ikhlas tanpa menggurui apalagi mengejek. Dia menerangkan dengan ilmu psikologi yang diakhiri dengan kata “Ikhlaskan, Itu sudah kehendak-Nya. Memberi tanpa merasa kehilangan itulah ikhlas. Berikan kepada yang punya dan jangan merasa kehilangan.”
Terima kasih sahabat atas “ikhlas“-nya…..
Semoga bermanfaat……………….
Penulis : Syamsudin Machfoedz





