Malangkita. Sabtu, 3 Desember 2011 lalu telah digelar Ruwatan Bhumi Arema Kota Malang. Acara ini dilanjutkan dengan kirab budaya yang menampilkan beragam etnisitas yang tumbuh dan berkembang di Kota Malang. Apresiasi positif dari masyarakat menjadikan pemerintah Kota Malang berencana menjadwalkan acara ini sebagai agenda tahunan.
Melihat sambutan positif dan antusias masyarakat kota Malang, Peni Soeparto, Wali Kota Malang berencana menjadikan Ruwatan Bumi dan Kirab Budaya sebagai acara tahunan. Peni mengungkapkan gelaran ini merupakan salah satu program pemerintah guna melestarikan dan mengenalkan budaya Malangan pada generasi muda yang sekarang ini sering dilupakan dan ditinggalkan.
“ Terutama budaya tentang kerajaan Singosari. Peninggalan terkait dengan Kendedes masih kita gali lagi dan bekerja sama dengan ahli sejarah dari UM”, paparnya. “Tahun depan, atraksi tiap peserta akan diatur kembali untuk pelaksanaan dan durasinya. Tadi kan pembagian waktu atraksinya masih tidak sama, ada yang lama dan ada yang sebentar. Jadi agar sesuai jadwal beberapa atraksi sempat terpotong. Untuk kedepannya akan diorganisir lagi“, jelasnya.
Acara ini selain sebagai peringatan tahun baru hijriah dan Suro dalam penanggalan Jawa, juga dimaksudkan untuk memohon keselamatan, kebaikan dan iklim kondusif bagi Kota Malang. Setidaknya itu yang dipaparkan oleh Ida Ayu Wahyuni selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Acara ini juga dimaksudkan untuk menarik wisatawan sehingga diagendakan digelar setiap tahun.
Ruwatan murni merupakan tradisi Jawa yang bertujuan membersihkan manusia dari kesialan (sukerta) demi penyelamatan manusia melalui ritual tertentu dan pagelaran wayang ruwatan dengan lakon Murwakala. Tidak hanya kesialan tetapi juga sifat-sifat jahat yang ada didiri manusia akan memudar. Ruwatan Bumi Arema dipimpin oleh Ki Amin Soekarno selaku dalang ruwat.
Murwakala menceritakan tentang sang Hyang Manikmaya (Batara Guru) yang beristrikan Dewi Umayi. Ketika keduanya pesiar mengendarai Lembu Andini, Manikmaya ingin bersenggama dengan istrinya. Namun, Umayi menolak dan dikutuk menjadi Betari Durga. Air mani Manikmaya jatuh ke laut dan lahirlah bayi raksasa yang diberi nama Batara Kala. Ia mendapat wewenang dari ayahnya menjadi Janma Sukerta atau orang yang lalai dalam hidup.
Betara Kala juga diberi gada sakti dan diizinkan menyantap manusia dengan tanda Janma Sukerta. Ada 136 jenis dan tanda manusia Janma Sukerta Tandha Kala, antara lain ontang-anting (semata wayang), pandawa (anak lima lelaki semua), dan sendang kapit pancuran (tiga orang anak yang perempuan di tengah-tengah). Meski demikian, kesaktian Batara Kala akan memudar ketika melawan dalang Kanda Buwana yang sebenarnya adalah Batara Wisnu.





