Malangkita. Profesi dalang tidak selalu identik dengan orang tua. Muhammad Kresna Aditama adalah salah satunya. Mahasiswa FISIP jurusan Ilmu Politik tahun 2008 ini melestarikan dan mengenalkan wayang terhadap generasi muda.
Kresna kerap kali mendalang dalam acara ruwatan atau gelaran wayang di Kota Malang. Nama dalangnya adalah Ki Kresna Soesamto yang merupakan pemberian dari guru dan leluhurnya. Ia pun turut tampil dalam acara ruwatan Kota Malang pekan lalu.
Kresna membawakan cerita “Kolo Thundung” yang artinya mengusir semua keburukan yang ada di muka bumi, termasuk keburukan pada sifat-sifat manusia. Semua kerusakan yang terjadi di alam adalah akibat dari ulah manusia sendiri yang tidak bertanggungjawab, serakah dan tidak “memayu hayuning bawono” (menjaga keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dunia).
Lakon ini merupakan cerita semi ruwatan. Semar dan Kresna menggelar ruwatan setelah Betara Kala akan memakan Pandawa. Negara Amarta pun geger apalagi di sana juga terjadi pagebluk mayangkara (wabah penyakit yang luar biasa). Mengetahui ini ulah Betara Kala, maka Kresna dan Semar pun menggelar ruwatan.
Isi dari lakon ini banyak mengandung doa tolak balak. Singkatnya, terkait pembenahan dan solusi dari pengejowantahan Betara Kala di bumi ini harus dilakukan pembenahan pada dua sisi. Pada sisi rohaniah yaitu bagaimana kita harus bisa mengalahkan nafsu jelek kita. Adapun pada sisi luar atau jasadiah, ditujukan pada penanggulangan efek-efek negatif yang sudah terjadi.
Tokoh protagonis Kresna yang bersifat baik dan bijaksana dari cerita wayang inilah diharapkan dapat menjadi panutan bagi generasi muda. Dalang muda yang juga cucu dari mantan Wali Kota Malang, HM Soesamto ini berharap generasi muda yang saat ini unggah-ungguh dan sopan santun terhadap orang tua sangat memprihatinkan bisa belajar menghormati sesama dan dunia dari kisah tersebut.





